Rabu, 23 Oktober 2013

TEKNIK MENGGAMBAR BENTUK

Sebelumnya membahas teknik menggambar perlu saya ingatkan bahwa menggambar tidak lepas dari hukum persepektif dan anatomis, sehingga perlu dipahami dahulu dua hal tersebut agar supaya dalam menggambar sesuai dengan apa yang kita lihat. Teknik menggambar hanyalah upaya kita untuk merealisasikan image kita yang dipengaruhi oleh media kita.

Teknik menggambar terdiri dari beberapa macam, antara lain :

Teknik Arsir, Media Pensil diatas Kertas
1. TEKNIK ARSIR
Teknik mengambar arsir lebih menekankan pada kekauatan garis (stroke). Dilakukan berulang-ulang secara sejajar maupun tumpang berpotongan, hal ini dilakukan untuk memberikan kesan gelap. Atau dapat dilakukan secara sejajar dengan memperhatikan kerapatannya saja, apabila dilakukan dengan rapat menyebabkan kesan gelap dan sebaliknya. Atau menggunakan tekanan yang ringan dan kuat dilakukan secara diulang-ulang. Alat yang digunakan biasanya pensil, spidol, crayon, konte, kapur, arang, dll.

Teknik Arsir, Media Crayon diatas Kertas


2. TEKNIK DUSSEL (GOSOK)
Teknik menggambar ini menggunakan bantuan kapas atau alat khusus yang berupa gulungan kertas (bentuknya mirip pensil), bahkan jari-jari kitapun dapat digunakan untuk teknik menggambar yang satu ini. Pada teknik ini stroke/garis akan dihilangkan atau dihaluskan dengan cara digosok-gosok (dusel). Yang paling cocok untuk teknik menggambar ini adalah menggunakan jenis pensil yang lunak ( 2B ke atas) atau konte dan krayon. Perhatikan gambar dibawah ini!

3. TEKNIK BLOK (silhouette)
http://p6.storage.canalblog.com/66/55/719439/58977181.jpg

Teknik menggambar ini memang jarang kita jumpai sehingga tampak seperti sesuatu yang baru. Teknik ini lebih menekankan pada perwujudan karakter objek. Dengan hanya melihat silhuetnya saja kita bisa menebak bentuk dari objek tersebut.


4. TEKNIK TITIK (POINTILISME )
Teknik menggambar ini menitikberatkan pada penggunaan titik (dot) untuk membentuk gambar. barangkali ada yang bertanya berapa banyak titik harus dibuat? Ya jawabnya tergantubg dari besar kecilnya gambar serta ditailnya. Penyusunan titik-titik yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan titik. Kerapatan penyusunan titik-titik adalah untuk menentukan gelap terang dari suatu objek agar tampak pejal (kesan tiga dimensional).
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAZIBsIykimE8JmvRYvBEnQIvVXct9ymy5kztJ5-qk3daQOPm50wxH4iwYMt4oojFmM31REs5oiBFn-gsmfBknThoePUZ2CubV1mA2Q818quv5NSzsjJ7q6jJs5R9aqrUeABLaa5VMsVQ/s1600/pointilis.jpg
Teknik Pintilis (Dot), Pena diatas Kertas

5. TEHNIK  AQUAREL (TRANSPARAN)
Teknik Dussel, Media Pensil diatas Kertas
Teknik menggambar ini menggunakan media basah agar supaya menghasilkan warna yang transparan. Paling cocok menggunakan media cat air, cat acrylik, dsb. Kertas gambar sebelum dilakukna proses menggambar paling bagus yang harus dibasahi agar cat cepat menyebar. Atau dibuat lembab. Alat yang cocok adalah menggunakan kuas. Dilakukan secara berulang-ulang dan menumpuk agar menghasilkan warna tua atau gelap. Teknik menggambar yang satu ini memang membutuhkan kemampuan khusus dalam penguasaan alat kuas. Gambar dari teknik ini memiliki karakter khusus dan karena bahan warnanya cat air atau acrylik maka warna yang dihasilkan memeng tampak cemerlang kalau dibandingkan crayon.

Teknik Aquarel, media Cat Air diatas Kertas



















Senin, 21 Oktober 2013

MENGGAMBAR BENTUK

Pada hari ini saya ingin memberikan gambaran materi pelajaran untuk Setengah Semester ke-2 pada Semester Ganjil, yaitu tentnag Menggambar Bentuk.

Pengertian Menggambar
Menggambar sebenarnya adalah proses meniru atau mencontoh benda nyata. Meniru atau mencontoh sesuatu bentuk yang nyata kemuadian benda atau objek tersebut ditangkap oleh lensa mata kita, kemudian dikirim kedalam memori (otak) kita untuk disimpan. Pada tahapan ini disebut gambar imajinatif dan sewaktu-waktu dapat kita keluarkan dengan bantuan syaraf motorik kita menjadi gambar riil. Nah, pada tahap inilah diperlukan kemampuan khusus. Tidak semua orang mampu melaksanakan perintah otak kita. Oleh sebab itu diperlukan latihan dan ketrampilan untuk melaksanakan perintah otak tersebut. Proses inilah yang disebut menggambar. Disini perlu digaris bawahi bahwa dalam proses menggambar terjadi keterikatan anatomis dan persepektif.

Bagaimana dengan menggambar tanpa objek  langsung atau imajinatif? Sebenarnya sama. Setiap orang tentu memiliki pengalaman melihat sesuatu benda dan itu telah tersimpan didalam fikirannya. Apabila ada seseorang yang menggambar tanpa objek atau imajinatif maka tentu orang tersebut telah memanfaatkan gambar-gambar yang telah tersimpan didalam fikirannya. Dengan kemampuannya maka orang tersebut mampu mengingat bentuk objek tersebut. Prose menggambar inilah yang agak sulit, dikatakan sulit karena tidak sembarang orang mampu melakukan hal ini.

Bagaimana dengan gambar khayal (rekaan)? Jawabannya ya sama juga. Bahwasanya setiap orang ada yang dikarunia kemampuan berkhayal tinggi artinya objek tersebut tidak realitis (tidak ada didunia nyata). namun didalam fikirannya telah tersimpan berbagai bentuk objek khayalan tersebut kemudian tinggal mengeluarkannya dalam bentuk gambar nyata.

Sebenarnya untuk gambar rekaan atau khayal bangsa Indonesia telah mengenalnya dalam bentuk WAYANG. Wayang termasuk dalam gambar rekaan atau khayal sehingga kalau kita mengenal tokoh-tokoh super hero sebenarnya bangsa kita telah lebih dahulu menciptakan tokoh-tokoh khayal sering dikenal dengan istilah FIKSI. 

REFLEKSI
Oleh sebab itu saya mengajak kepada para siswa untuk kembali mencintai budaya sendiri dan kita kembangkan budaya kita untuk menjadi bagian dari budaya dunia. Dari rasa cinta maka akan tumbuh kepedulian. Jangan sampai terjadi lagi penyerobotan dan pengakuan budaya kita oleh bangsa lain. Kalau telah terjadi baru kita bereaksi. GONG PACAK GOLU. Sesuatu yang sudah terlanjur mau apa lagi?

Selasa, 08 Oktober 2013

CONTOH SUSUNAN TUGAS SENI MUSIK



Sasando, antara Pelestarian Budaya dengan Peluang Usaha



 
Oleh : Drs. Mudiyono

Text Box: GAMBAR/FOTOADA pemandangan agak kontras. Dentingan musik bernada padu, sejuk dan merdu justru bersumber dari sebuah rumah sederhana- berdinding pelepah gewang yang lazim disebut bebak, sementara sebagiannya sudah tampak reot. Pemandangan kontras menjadi kian tajam karena ru-mah sederhana sumber dentingan musik justru berlokasi di Puluti, Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah. Kampung kecil yang masih lengang itu sekitar 22 km arah timur Kupang, lumayan jauh dari pusat keramaian kota Propinsi NTT di Pulau Timor itu. Paduan nada musik pengiring lagu daerah Bolelebo yang didentingkan secara instrumentalia, terdengar lengkap. Ada nada bas, nada pengiring dan juga nada melodi. Kelengkapan serta keharmonisan paduan nadanya sungguh memancing penafsiran bunyi musik itu bersumber dari tape recorder atau dari aksi sekelompok pemusik sebuah grup band dalam rumah
Dugaan itu ternyata melenceng sangat jauh. Di sana-di dalam rumah yang sekaligus merupakan tempat usaha itu-cuma ada seorang pemuda lajang bernama Jack Pah (18). Ditontoni dua rekan sebayanya, Jack asyik bermain musik. Dan jangan terkejut, alat musik yang ia gunakan bukan peralatan musik modern. Alat musiknya hanya sebuah sasando-alat musik tradisional peninggalan leluhur Pulau Rote.
Pulau seluas 1.214,3 km2 atau 2,6 persen dari wilayah NTT, kini didukung enam kecamatan dan masuk wilayah Kabupaten Kupang. Tidak ada yang menyangkal jika sasando kini dikategorikan sebagai kekhasan NTT selain cendana serta obyek wisata terkenal Danau Triwarna Kelimutu di Kabupaten Ende dan Taman Nasional Komodo di Labuanbajo, Kabupaten Manggarai.
Menurut Jeremias A Pah (60), ayah Jack Pah, alat musik sasando itu semuanya buatan kami sendiri. Pembuatannya melibatkan seluruh anggota keluarga. ''Anak-anak saya juga hampir semuanya bisa bermain sasando. Karenanya, yang kami lakukan sekarang sebenarnya tidak sekadar melestarikan keberadaan jenis musik sasando, tetapi sekaligus menjadi peluang usaha,'' ujar Jeremias.
Ayah delapan anak ini adalah salah seorang turunan leluhur Rote. Di Kota Kupang dan sekitarnya, keluarga Pah dikenal berdarah seni musik. Mereka juga punya kepedulian khusus terhadap pelestarian sasando. Salah seorang anggota keluarganya, Welly Pah (40) pernah memainkan sasando hingga di Amerika Serikat dan Berlin, Jerman, tahun 1996 dan 1997. Kembali ke rumah Jeremias Pah, kalau Jack sedang asyik memetik sasando, adiknya bernama Jitron Corion Pah (15) terlihat sedang sibuk di bagian lain ruangan yang menjadi bengkel kerja. ''Ia sedang merampungkan sasando ukuran kecil pesanan keluarga yang akan menyelenggarakan pernikahan di Surabaya. Pesanannya lumayan banyak, 1.000 buah untuk cinderamata,'' tambah Jeremias Pah.***
SANGAT beralasan sebagaimana diceritakan berbagai pihak di Kupang dan sekitarnya, kalau keluarga Pah dilukiskan sebagai penyelamat sasando. Turunan berdarah seni musik ini juga dikenal sangat piawai memainkan sasando. Sebut saja misalnya Leonard Eduardus Pah (alm). Didukung vokal istrinya, Ny Susana Dorothea M Pah, pasangan ini hingga awal tahun 1990-an dikenal sangat getol memperkenalkan alat musik tradisional peninggalan leluhurnya itu. Keluarga Pah lainnya, Jeremias Pah di Oebelo, Kabupaten Kupang, tidak hanya mampu bermain sasando. Ia juga tekun mengajari dan mendorong anak-anaknya agar mengakrabi alat musik tradisional itu. Putra kelahiran Pulau Rote, 22 Oktober 1939 itu mendukung obsesinya dengan membuka usaha kerajinan sasando di Oebelo. ''Sulit dibayangkan jika Jeremias Pah tidak membuka usaha kerajinan itu. Pengunjung atau peminat sasando pasti sangat kesulitan mendapatkan alat musik tradisional itu,'' tutur seorang pengunjung dari sebuah perusahaan Asuransi di Kupang. Pernyataan sang pengunjung ini tidak berlebihan. Alasannya, kerajinan serupa sangat sulit ditemukan di Kota Kupang. ''Pemusik di barat sangat terkagum-kagum ketika saya memainkan sasando di sana beberapa tahun lalu. Mereka terkesan sulit mempercayaai kesaksiannya ketika dari sebuah sasando yang dimainkan satu orang bisa menghasilkan paduan nada secara lengkap,'' tambah Welly Pah mengenang gagasan mantan Gubernur NTT Herman Musakabe. Katanya, Gubernur Musakabe ketika itu sangat terobsesi agar sasando dikenal secara internasional. Karenanya ia tidak segan-segan membiayai Welly Pah dan dua rekannya melanglang ke AS dan Eropa. Alhasil, sasando makin mendunia. Pesanan terus mengalir, tidak hanya dari Amerika dan Eropa, tetapi juga dari Jepang dan negara Asia lainnya.
BAGAIMANA sosok fisik alat musik tradisional itu? Para ahli warisnya mengakui, tampilan sasando dewasa ini memang sudah mengalami perubahan, namun sebagian besar bahan bakunya masih asli.
Sebut saja daun lontar yang dilengkung hingga berbentuk setengah bundaran, masih dipertahankan hingga sekarang. Begitu juga potongan bambu yang dipasang seolah menjadi garis tengah permukaan bundaran daun lontar, masih seperti aslinya. Dalam bentuk aslinya dulu, tali pendentingnya langsung dari cungkilan kulit bambu di antara kedua bukunya. Potongan bambu itu kemudian diikatkan pada permukaan bundaran daun lontar, memotong garis tengahnya. Selanjutnya, tali-tali cungkilan tadi diganjal dengan potongan kayu yang disebut senda hingga mendapatkan nada yang diinginkan. Setelah semuanya terbentuk, sasando sudah bisa langsung dimainkan. Bundaran daun lontar dengan fungsi khusus memadukan resonansi hingga dentingan sasando yang terdengar lebih bergema, harmonis dan merdu.
Dalam perkembangan selanjutnya, tali cungkilan kulit bambu diganti dengan senar dari kawat halus. Sementara di kedua ujung bambu dipasangi potongan kayu keras yang akan ditancapi sejumlah potongan skrup pengikat senar. Alat musik ini bisa langsung digunakan setelah tali-talinya diganjali senda.
Belakangan atau sejak tahun 1980-an, tampilan sasando semakin bervariasi dengan ditemukannya sasando listrik. Sasando ini berpenampilan ''telanjang''-hanya berupa potongan bambu dengan rentangan senar sekelilingnya. Atau, tidak lagi menggunakan bundaran daun lontar sebagai pengatur resonansi dentingannya. Meski begitu, pengunjung sebagaimana diakui Jeremias Pah, lebih menyukai sasando lontar. Pilihan mereka terutama pada sasando lipat. Alasannya, bisa dibawa ke mana-mana hingga negeri jauh sekalipun. Di bengkel kerajinan Jeremias Pah belakangan memang hanya menghasilkan sasando lipat. Melibatkan enam anggota keluarganya, dalam sebulan bisa menghasilkan sekitar 20 sasando berukuran besar. Sasando jenis ini lazim mereka sebut sebagai sasando gong (bertali 9-10) dan sasando biola (bertali 24-32). Sementara sasando kecil (untuk cinderamata) bisa dihasilkan mencapai 60 buah per bulan. Sasando cinderamata dipasarkan dengan Rp 2.500 - Rp 20.000 per buah. Sedangkan sasando besar (gong atau biola) antara Rp 200.000 - Rp 300.000 per buah. Jeremias menjelaskan, penghasilannya dari usaha kerajinan sasando, tiap bulannya tidak tentu-bergantung musim. Kalau musim hujan biasanya sepi. (frans sarong)



 

KESIMPULAN :
1.       Alat Musik Sasando berasal dari Pulau Rote - Nusa Tenggara Timur
2.       Untuk membuat Sasando dibutuhkan keahlian khusus, dan karena tidak banyak orang NTT yang mampu membuat Sasando maka pembuatan sasando dapat dijadikan peluang usaha sekaligus pelestrian budaya



 

Kamis, 03 Oktober 2013

TUGAS SENI MUSIK

I. SOAL
Carilah informasi yang berupa gambar dan tulisan tentang "Alat Musik Nusantara" melalui Internet dan diketik dengan komputer dengan susunan atau urutan sebagai berikut :
1. Judul
2. Identitas anggota kelompok
3. Gambar atau Foto
4. Uraian
5. Sumber
6. Kesimpulan atau Rangkuman, misalnya tentang ;
- Nama alat musik
- Asal
- Fungsi atau manfaatnya

II. KETENTUAN
a. Masing-masing anggota kelompok minimal mengumpulkan 1 (satu) judul
b. Dikumpulkan secara berkelompok, dibendel dan diberi sampul/kover seperti contoh berikut :
c. Diketik pada kertas HVS 70 gram ukuran Folio/F4 ( 21,5 x 33 cm )
d. Jenis huruf/font Arial, Time new Roman, Celibri atau Futura, ukuran 12 pt, warna hitam (khusus uraian) yang lain bebas.

III. WAKTU PENGUMPULAN
21 Oktober 2013 (paling akhir, setelah tanggal tersebut tidak diterima)

Rabu, 02 Oktober 2013

TUGAS SEN RUPA 1

A. Susunlah unsur-unsur (elemen-eleman) Seni Rupa dibawah ini :
     1. Titik
     2. Garis
     3. Bidang
    4. Warna
    5. Tekstur
B. Dikerjkan pada Lembar Kerja Siswa ( Kertas Gambar) ukuran A-3 atau sesuai tugas yang diberikan
C. Dikerjakan menjadi 2 tahap :
     Tahap pertama adalah membuat konsep/rencana/desai menggunakan alat pensil 2B.
     pada tahapan ini yang dikerjakan adalah tiga elemen atau unsur yaitu : titik, garis dan bidang
     Tahap kedua adalah mengisi elelmen warna, dan tekstur.
     tekstur terdiri dari empat pilihan, yaitu tektur alam. tekstur maginal. tekstur buatan dan tekstur kesan.
D. Waktu pengerjaan 2 x tatap muka ( 2 pertemuan atau 2 minggu )
     Selamat mengerjakan , bila ada sesuatu yang kurang jelas bisa ditanyakan!